Tentang Penulis

DSC00054

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…

*Nama : Ristanto

*Tempat Tgl Lahir : BREBES, 26 Oktober 1992

*Alamat : Kampung Selarum, Desa Indrajaya, Kbupaten Brebes, Jawa Tengah Indonesia

Pindah (2011) Dsn.Krajan DS.Ketapang RT.2 RW.XI Kec.Kalipuro Kab.Banyuwangi

*Pekerjaan : Wiraswasta (Usaha kecil di bidang percetakan)

It’s Me ???

Keren, ramah, ganteng, dan rajin menabung.
Gak punya sisa harta atau kaya warisan.
Gak juga anak pengusaha apalagi jendral.
Berenti kuliah cuma gegara mau jadi pengusa bukan nyapein orang tua.

Ini peribadi gw, Lebih terbiasa dengan masalah yang di selesaikan sendiri,
Banyak ngomong dan sedikit mau mendengar.
Banyak memberi dengan sedikit membuka tangan.
Gak takut jin, setan, apalagi orang.

Seseorang perasa yang kebiasaanya nyetok kata-kata bijak dan hidup dalam suasana pemikiran santai.

Sujud buat Tuhan, Tunduk kepada siapa yang melahirkan, Kerja untuk kaya dan berkah ramah untuk orang susah.

Menempuh pendidikan di :
.: SD Negeri Indrajaya 02

.: SMP Negeri 1 Salem
.: SMA Negeri 1 Majenang
.: SMA Negeri 1 Salem
.: STIKOM PGRI Banyuwangi,jurusan Management Informatika (D1)

Bercita-cita ingin menjadi Pengusaha.

Dibesarkan di keluarga sederhana, ayah Pedagang kadang bertani sedangkan ibu ngurus rumahtangga, dengan 1 kakak laki-laki dan 1 adik perempuan.

:D

Tentang Daerah Saya Kecamatan Salem

Salem-Brebes-Indonesia
Provinsi
Jawa Tengah
Kabupaten
Brebes
Kecamatan
Salem
Salem adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Indonesia. Kecamatan ini terletak di ujung barat daya wilayah Kabupaten Brebes. Berbatasan dengan Kecamatan Banjarharjo(atau Banjarharja) dan Ketanggungan di utara, Kecamatan Bantarkawung di timur, Kecamatan Majenang (Kabupaten Cilacap) di selatan, serta Kabupaten Kuningan (Jawa Barat di barat)
Desa/kelurahan
1. Banjaran
2. Bentar
3. Bentarsari
4. Capar
5. Ciputih
6. Citimbang
7. Gandoang
8. Ganggawang
9. Gunung Larang
10. Gunung Sugih
11. Gunung Tajem
12. Indrajaya
13. Kadumanis
14. Pabuaran
15. Pasir Panjang
16. Salem
17. Tembongraja
18. Gunung Jaya
19. Wanoja
20. Windu Sakti
21. Winduasri

GEOGRAFI
Kecamatan Salem merupakan daerah pegunungan (400-900 mdpl), dimana Salem sendiri berada di lembah yang dikelilingi hutan dan deretan pegunungan di sekitarnya, berhawa sejuk (16-22° C) dan memiliki panorama yang indah. Lanskape kecamatan Salem mirip mangkok bakso. di kiri kanan adalah daerah pegunungan – pebukitan yang cukup tinggi sementara ditengah-tengahnya adalah wilayah kecamatan Salem. Dengan kondisi daerah tersebut wilayahnya merupakan daerah yang masih cukup terisolir.
Dengan daerah yang dimiliki tersebut, maka secara militer wilayah Salem merupakan daerah pertahanan yang efektif. Dengan menyandang daerah pertanian yang subur, maka tidak aneh wilayah kecamatan Salem merupakan daerah strategis secara politis.

TRANSPORTASI
Salem dapat diakses dengan jalan darat melalui tiga jalur utama yaitu: dari Bumiayu (timur) sekitar 40 km, dari Majenang (selatan) sekitar 20 km, atau dari Banjarharja melalui desa Sindangheula dan mendaki Gunung Lio utara (sekitar 30 km). Akses menuju Salem dari jalur manapun harus melalui jalan yang terjal dan sempit dengan kualitas aspal yang asal ada (kualitas rendah). Akhir-akhir ini tampaknya cukup bagus dengan aspal kualitas hotmik untuk jalur Sindangheula (utara) dan jalur Majenang (selatan) serta jalur Bumiayu (2006). Untuk dilalui kendaraan roda empat cuma ketiga jalur tersebut. Akan tetapi harus ekstra hati-hati karena terjal, terutama dari arah Sindangheula (utara). Ada satu lagi jalur alternatif, yaitu jalur barat Kuningan melalui desa Capar – Ciwaru, tetapi harus dengan jalan kaki.

BUDAYA
Semua penduduk Salem menggunakan Bahasa Sunda sebagai bahasa sehari-hari. Budaya dan kesenian banyak memiliki kesamaan dengan kesenian yang berkembang di daerah Priangan Timur, seperti kiliningan, wayang golek, reog, calung, dsb. Demikian juga untuk kalangan santri terdapat kesenian terbang atau gembyung, dan seni tari rudat. Untuk budaya dan kesenian tertentu terpengaruh dari budaya & kesenian khas Cirebon, seperti kesenian tarling.
Dengan keberadaannya, kecamatan Salem menjadi sebuah wilayah ber-etnik Sunda, tetapi dibawah pengelolaan pemerintahan ber-etnik Bahasa Jawa. Demikian juga untuk kecamatan yang lain seperti kecamatan Banjarharja dan Bantarkawung.

AGAMA
Agama yang dianut oleh penduduk kecamatan Salem adalah Islam. Jika ada penduduk yang beragama selain Islam, itu adalah pendatang dari luar kecamatan. Mereka datang ke Salem, biasanya karena melaksanakan tugas kantor, entah itu guru, aparat keamanan, petugas kesehatan, petugas BRI atau aparat Pemda lainnya.

PEREKONOMIAN
Sebagian besat penduduk Salem adalah petani, dengan hasil pertanian padi, kelapa, sayur mayur, dan palawija. Selain itu salem merupakan penghasil kayu hasil hutan lainnya, terutama kayu pinus, bambu, mahoni dan al-basiah (umumnya hasil perkebunan rakyat), serta getah pinus. Hasil pertanian lain yang juga cukup banyak adalah hasil buah-buahan seperti mangga, durian, petai, pisang, nangka dan buah lainnya.
Mengingat potensi daerah yang akhir-akhir ini kurang mencukupi untuk kebutuhan seharihari, maka Sebagian penduduk Salem banyak yang merantau ke daerah lain terutama kota besar seperti Jakarta, Bandung, Semarang, atau Yogyakarta.

PENDIDIKAN
Kecamatan Salem terdapat sarana pendidikan dari tingkat SD hingga SLTA. Setiap desa sedikitnya memiliki sebuah SD Negeri. Salem juga terdapat sejumlah pondok pesantren seperti di Desa Tembongraja, Gunung Sugih dan Ganggawang, Indrajaya, dan Bentarsari. Pesantren ini umumnya memiliki hubungan dengan pesantren di Jawa Barat seperti Ciamis dan Tasikmalaya. Di Salem terdapat satu SMA yaitu SMA N I SALEM, tapi kebanyakan lulusan disini, tidak melanjutkan pendidikannya ke yang lebih tinggi. Salah satu faktornya karena faktor ekonomi yang kurang menunjang. Kemudian mereka setelah lulus banyak yang mencari pekerjaan ke Jakarta. Anak-anak asli Salem banyak juga yang melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi ke berbagai daerah. Ada yang ke Purwokerto, Yogyakarta, Semarang, Jakarta, Ciamis, dll.

LINGKUNGAN HIDUP
Kecamatan Salem adalah daerah pegunungan (100 – 1200 dpl) memiliki tofografi/landskape seperti sebuah mangkok, dimana di dalamnya mengalir sungai yang cukup deras, Cigunung yang berhulu di gunung pojok tiga, melewati desa Tembong Raja, Indrajaya, Banjaran Salem dan Bentarsari dan Cibentar. kedua sungai tersebut bertemu di desa Ganggawang dan Bentarsari, dan mengalir ke hilir menjadi sungai Cipamali atau Kali Pemali di Bumiayu. Dengan ketinggian tersebut maka Salem merupakan daerah subur dengan curah hujan yang cukup tinggi. Sebagaian besar wilayahnya adalah hutan di bawah pengelolaan Perhutani dan hanya sebagian kecil saja yang dikelola penduduk. Karakteristik alam Salem yang bagus tersebut belum diolah secara optimal, misalnya sungai yang deras belum diolah menjadi wisata olah raga air rafting, atau alam yang bagus belum dibuat rekreasi hutan alam yang eksotik. Atau bahkan bisa juga dijadikan daerah tujuan.

SEJARAH
Semua penduduk Kecamatan Salem berbahasa dan berkebudayaan Sunda sejak berabad-abad yang lampau, sehingga mereka adalah penduduk asli di daerah ini. Pada masa lampau, daerah Salem termasuk dalam wilayah Kerajaan Galuh dan Kerajaan Pajajaran. Ada sementara cerita lisan yang mengatakan bahwa penduduk Salem ada keterkaitan dengan Kejadian Perang Bubat zaman Majapahit. Setelah Perang BUbat, ternyata tidak seluruh punggawa/pengawal/rakyat Pajajaran mati terbunuh, dan kembali ke Jawa Barat. Ada sisa-sisa punggawa tersebut menetap diwilayah kecamatan Salem. Peninggalan penduduk pertama tersebut, sebagian dapat dilihat di situs Gunung Sagara (Lautan). Pada abad ke-19 ditemukan naskah lontar tua di situs Gunung Sagara yang menggunakan Bahasa Sunda kuna[rujukan?]. Naskah ini dibawa bupati Brebes RAA. Tjandranegara dan diserahkan kepada seorang ahli bahasa KF. Holle untuk kemudian disimpan di Batavia. Paling tidak ada dua naskah Sunda yang terkenal, yaitu Sewaka Darma dari Kabuyutan Ciburuy, Garut dan Carita Ratu Pakuan, yang menyebutkan sendiri bahwa (isi) naskahnya berasal dari (dan hasil bertapa dari) Gunung Kumbang (1218). Gunung Kumbang masa lampau mungkin adalah sebuah tempat lemah dewasasana, kabuyutan, dan tempat bagi para intelektual masa kerajaan Sunda. Mungkin di sini termasuk pula Gunung Sagara, di mana Gunung Sagara terletak di lereng selatan Gunung Kumbang tersebut.
Daerah Sunda di daerah Salem dan sekitarnya mempunyai perbedaan kebiasaan dengan daerah Sunda lainnya (Priangan, Banten, Karawang, dsb). Perbedaan tersebut terutama dapat dilihat dalam hal adat budaya, bahasa, detail bentuk-bentuk kesenian, dan juga dalam tatacara beragama. Tata cara beragama penduduk Salem kelihatannya masih terdapat unsur kegamaan Hindu dengan campuran-campuran adat setempat yang kental. Pada zaman Hindia Belanda, penduduk Salem masih ada yang melestarikan atau melaksanakan praktek perkawinan model animisme. Misalnya, jika penduduk bermaksud hendak melaksanakan pernikahan, maka mereka akan mendaki dahulu ke lereng Gunung Sagara. Jika di lereng Gunung Sagara terlihat ada burung yang melakukan perkawinan, artinya kedua mempelai tersebut direstui oleh penghuni Gunung Sagara. Wilayah Salem merupakan kecamatan terpencil, tetapi sempat juga ditetapkan menjadi sebuah kawedanan pada masa penjajahan Belanda. Penetapan ini diperkirakan disebabkan strategisnya daerah Salem. Pada era awal perang kemerdekaan, Salem juga menjadi pusat pertahanan atau tempat mengungsi Bupati Brebes pro Republik. Waktu itu bupati kembar, yang pro Belanda disebut bupati Recomba berkantor di Brebes (Gandasuli), sementara bupati RI berkantor di desa Bentarsari, Salem. Mengingat daerahnya yang strategis tersebut, setelah Perang kemerdekaan usai daerah ini juga pernah menjadi daerah basis pemberontak DI/TII pimpinan Amir Fatah. Tahun 1960-an di daerah ini juga muncul gerakan-gerakan yang berafiliasi dengan pemberontakan G.30.S/PKI di Jakarta. Hal itu konon erat kaitannya dengan keberadaan pasukan TNI yang pernah bertugas di daerah Salem. Bagi masyarakat setempat tidak bisa dilupakan, ketika ada pasukan penumpas DI/TII (konon dari Div 449). Kejadian terakhir inilah yang menarik. Salem adalah daerah basis pesantren tradisional, tetapi kenapa banyak ditemukan anasir-anasir yang bertentangan dengan semangat pesantren.

 

Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.
email: riistanto15@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s