Tangis Bung Hatta untuk Sepak Bola Indonesia

PLEIN van Rome, lapangan luas yang terletak di alun-alun Kota Padang, menjadi saksi bisu kecintaan Bung Hatta terhadap sepak bola. Semasa hidupnya, Wakil Presiden RI pertama itu merupakan salah satu tokoh nasional yang menggemari olahraga tersebut. Melalui kepengurusan sepak bola saat bersekolah di MULO jugalah Hatta pertama kali belajar untuk berorganisasi hingga sebutan “Bapak Koperasi” disematkan kepada dirinya.

Di masa remaja, Hatta sempat bergabung dalam klub sepak bola bernama Young Fellow. Meski berisi sejumlah anak Belanda, Hatta mampu tampil menonjol dan mampu memberikan prestasi. Juara Sumatera Selatan selama tiga tahun berturut-turut serta julukan “Onpas Seerbar” (Sukar Diterobos) dari orang Belanda adalah bukti kehebatan Hatta dalam sepak bola.

“Saya bermula bermain sepak bola di tanah lapang, dengan memakai bola biasa yang agak kecil ukurannya, bola kulit yang dipompa. Saban sore pukul 17.00, saya sudah di tanah lapang. Kalau tidak bermain sebelas lawan sebelas, kami berlatih menyepak bola dengan tepat ke dalam gawang dan belajar menembak ke gawang,” tulis Hatta dalam buku Untuk Negeriku: Sebuah Otobiografi.

Salah seorang teman Hatta, Marthias Doesky Pandoe, wartawan kelahiran Padang, dalam buku Hatta: Jejak yang Melampaui Zaman, disebut menyimpan banyak kenangan semasa Hatta masih remaja. Menurut Marthias, sejumlah teman Hatta yang pernah ditemuinya sering bercerita bahwa Sang Proklamator itu adalah gelandang tengah yang cukup tangguh.

Bahkan, kegemaran Hatta pada sepak bola berlanjut ketika dirinya menjadi salah satu tokoh politik penting dalam sejarah Indonesia. Dia tidak pernah absen menonton sejumlah pertandingan besar. Ketika diasingkan oleh kolonial Belanda ke Boven Digul pada 1935, ia bersama Sutan Sjahrir masih menyempatkan bermain sepak bola.

Hatta juga sempat membuat Bung Karno terpojok dan keteter saat beradu argumentasi mengenai kekalahan PSSI saat melawan kesebelasan Aryan Ghimkanna dari India di Stadion Ikada (sekarang Monas). Guntur Soekarno Putera yang ikut menonton pertandingan itu, dalam buku Pribadi Manusia Hatta, seri 10, lantas menyematkan judul “Nonton Bola, Apa Tafakur?” untuk menggambarkan keseriusan Hatta dalam urusan sepak bola.

Hingga hari tuanya, sepak bola pun masih menjadi bagian hidup Hatta. Pada awal 1970-an, saat Pandoe berkunjung ke rumah Hatta, tuan rumah berkata, “Di mana letak Plein van Rome sekarang?” Pandoe pun menjawab bahwa lapangan bola tersebut masih ada, tetapi kini telah menjadi alun-alun Kota Padang. Namanya sudah berganti menjadi Lapangan Imam Bonjol, yang berlokasi tepat di Kantor Balaikota Padang.

Semangat Nusantara

Dari sepenggal cerita tersebut, pasti timbul pertanyaan bagaimana jika Hatta melihat kondisi sepak bola nasional saat ini. Sebagai pencinta sepak bola sejati, Hatta pasti sedih dan mungkin saja menitikkan air matanya. Hal ini bukan tanpa alasan. Pasalnya, jika kita tarik ke belakang, sepak bola di masa Hatta, menjadi semangat tersendiri bagi anak bangsa. Kala itu, sepak bola bukan sebagai ajang pertarungan gengsi kepentingan pribadi seperti sekarang ini.

Pada masa penjajahan Belanda, pemuda Nusantara mengerti betul bahwa kehormatan sebagai bangsa bukan cuma urusan perang senjata, melainkan juga sepak bola. Atas semangat itulah, Persatuan Sepak Raga Seluruh Indonesia (sekarang PSSI) dibentuk pada 19 April 1930 sebagai wadah kesatuan untuk menegakkan martabat bangsa. Meski baru dibentuk, para pengurus di bawah kepemimpinan Ir Soeratin Sosrosoegondo itu telah memiliki konsep jelas bahwa sepak bola tidak hanya menjadi hobi, tetapi juga sebagai prestasi.

Koran Bintang Mataram edisi 22-44 April 1930, yang dikutip dari buku Kenang-kenangan 50 Tahun PSSI, melaporkan, salah satu misi berdirinya PSSI adalah sebagai jendela kebangsaan dan salah satu pintu gerbang menuju kemerdekaan. Dengan tujuan itu, jelas organisasi tersebut murni dibentuk dengan suatu kebanggaan akan semangat nasionalisme yang tinggi.

Alhasil, kompetisi pun dibuat bukan untuk kepentingan pribadi atau kelompok, melainkan demi harga diri. Berkat kompetisi itulah, Nusantara mampu berbicara kepada dunia. Dengan memakai bendera Dutch East Indies (Hindia Belanda), pemuda Nusantara menunjukkan bahwa Asia telah mengenal olahraga yang begitu digandrungi di Eropa melalui keikutsertaannya di Piala Dunia 1938. Nusantara kemudian menjadi pionir bagi Asia yang ingin unjuk gigi di hadapan penghuni bumi.

Pascakemerdekaan, Jepang dan Korea Selatan pernah merasakan dipermak 4-0 oleh pemuda Nusantara. Di Merdeka Games 1969, Taiwan pun harus bertekuk lutut kepada Soetjipto Soentoro dan kawan-kawan dengan skor 11-1. Medali emas SEA Games 1987 dan 1991 juga direbut Indonesia. Sejumlah prestasi itu, Nusantara jelas dapat membusungkan dada di antara negara Asia, seperti Thailand, Malaysia, dan Singapura, Jepang, hingga daratan Korea.

Bahkan, Jepang yang luluh lantah akibat Perang Dunia II tak malu untuk meniru Indonesia yang berstatus sebagai eks jajahannya. Mereka rela menyingkirkan gengsi sebagai penguasa Asia saat menjajah Nusantara selama 3,5 tahun lamanya. Dengan meniru sistem kompetisi Galatama pada akhir 1970-an hingga awal 1990-an, Negeri Sakura mampu meraih sukses melalui J-League miliknya dan dapat bertransformasi menjadi salah satu kekuatan Asia hingga kancah Piala Dunia.

Mimpi Indonesia

Lantas bagaimana dengan Indonesia saat ini? Hatta memang tidak sempat menyaksikan gemilangnya prestasi terakhir anak bangsa saat meraih medali emas SEA Games 1991 di Manila. Namun, Hatta mengerti bagaimana menjadi seseorang yang mencintai sepak bola yang memiliki kejujuran, kesederhanaan, serta tanggung jawab yang besar bagi negara. Hal inilah yang harusnya dijadikan suri teladan oleh sejumlah pengurus sepak bola di kompleks Senayan.

Semenjak SEA Games 1991, kondisi sepak bola nasional seperti tenggelam dalam sejarah kelam. Teranyar, lihat saja bagaimana bangsa ini diperbincangkan seluruh isi bumi saat menelan kekalahan 0-10 dari Bahrain di Pra-Piala Dunia yang menyakitkan hati. Belum lagi, istilah “spesialis final” mulai disematkan kepada Indonesia. Negeri ini kembali mengalami kegagalan di final turnamen Hassanal Bolkiah Trophy pekan lalu. Kini, satu per satu negara Asia sudah bisa menari karena prestasi, sementara kegemilangan Indonesia tinggal menjadi kenangan.

Lalu, kenapa di tengah majunya negara Asia justru Indonesia mengalami kemunduran prestasi luar biasa? Memang, banyak faktor mengenai anomali prestasi ini. Tetapi, rasanya tidak logis jika pemain dan pelatih yang disalahkan atas sejumlah kegagalan. Pengurus sepak bola yang berseterulah juga harus dituntut tanggung jawabnya, berkat ulahnya membuat dualisme kompetisi, pertarungan politik, dan konflik tiada henti.

Dengan adanya dualisme kompetisi, pilihan untuk mengisi pemain terbaik di timnas pasti akan menjadi masalah tersendiri. Sejumlah pengurus itu bahkan terkesan lebih mirip politisi dibanding pamong olahraga sejati.

Masa lalu sepak bola kita padahal memberi banyak teladan. Lihat saja di era 1960 hingga 1980-an, kelanjutan prestasi dari timnas yunior ke senior terlihat secara gamblang. Talenta muda Nusantara mampu meraih prestasi di kejuaraan Piala Asia Yunior (juara 1962, runner-up 1967, 1970), dan tiga kali berturut-turut meraih gelar Kejuaraan Pelajar Asia (1984, 1985, 1986). Prestasi itu bisa berlanjut ke timnas senior di era 1980 hingga 1990-an.

Tentunya, prestasi itu bisa berlanjut karena adanya kebesaran hati sejumlah pengurus PSSI yang mampu membangkitkan nasionalisme pemain yang juga membuat daya juang pemain meningkat. Pengurus rela hanya menerima honorarium selama pelatnas dan tidak menerima gaji tetap. Untuk soal dana, mereka hanya mengandalkan jualan karcis jika bertanding melawan tim-tim besar dan sedikit bantuan dari sejumlah penggila bola yang ingin menaikkan martabat bangsa di Asia.

Kebesaran hati dan keinginan untuk menaikkan martabat bangsa itulah yang hilang dewasa ini. Padahal, banyak sekali talenta muda yang tersebar di berbagai penjuru Indonesia. Lihatlah bagaimana timnas U-17 bisa meraih gelar juara di invitasi sepak bola Hongkong pada awal 2002, atau tim muda di sejumlah gelaran Piala Dunia Danone yang mampu mengalahkan sejumlah tim Eropa. Jika sudah begini, prestasi para talenta muda justru dijadikan komoditas politik untuk saling klaim dan pamer kesuksesan.

Perseteruan PSSI dan Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI) yang saling adu strategi dan kemampuan dalam berkonflik itu telah membuat Indonesia seperti kembali ke masa penjajahan Belanda dengan taktik devide et empera. Gigihnya pengurus dua organisasi itu dalam kisruh justru membelah persatuan anak bangsa. Terlalu banyak intrik demi mencari kekuasaan daripada meraih kesuksesan. Prestasi pun hanya menjadi mimpi di balik kotornya permainan politik demi kepentingan pribadi.

Contohlah Hatta

Harusnya setiap pengurus PSSI maupun KPSI dapat mencontoh Hatta yang mampu menyingkirkan emosi serta kepentingan pribadi demi kepentingan bangsa. Lihat saja bagaimana Hatta rela melakukan negosiasi dengan Belanda, yang telah menjajah ratusan tahun, dalam Konferensi Meja Bundar di Den Haag pada 1949. Kerelaan itu pun berbuah nyata, yaitu kemerdekaan Indonesia!

Belum lagi ketika Hatta dengan sikap kesatria mengundurkan diri dari posisi Wakil Presiden RI pada 1 Desember 1956 karena tidak sepaham dengan pandangan politik Bung Karno. Hatta sadar, bila bertahan dalam perbedaan dengan Bung Karno, justru bakal memperkeruh pemerintahan republik yang masih muda usia. Tujuannya pun jelas, yakni agar bangsa tidak terpecah belah.

Padahal, Hatta sebenarnya mempunyai sejumlah alasan kuat untuk menolak berunding dengan Belanda yang telah membuat rakyat Indonesia sengsara hampir 3,5 abad lamanya, ataupun menolak pandangan Bung Karno. Alasan itu pun jauh lebih kuat dibanding alasan statuta FIFA yang dipegang oleh PSSI dan KPSI.

Coba tanyakan ke masyarakat, apa yang diharapkan dari sepak bola Indonesia saat ini? Sebagian besar jawaban pastinya adalah mendapat prestasi, bukan mimpi, bukan pula konflik yang tiada henti. Masyarakat sejatinya saat ini tidak butuh sejumlah alasan dari pengurus sepak bola yang hanya sibuk dengan kepentingan pribadinya.

Sudah cukup bangsa ini menanggung malu, apalagi dengan hasil mengecewakan di Pra-Piala Dunia 2014 dan sejumlah final di kejuaran tingkat Asia itu. Harusnya kedua pengurus itu mengilhami ucapan Hatta bahwa jatuh bangunnya prestasi negara ini sangat tergantung dari bangsa ini sendiri.

Sekarang ratusan juta penduduk Indonesia menunggu apakah PSSI dan KPSI mau meniru kebesaran hati, kepedulian, dan jiwa kepahlawanan seorang pencinta sepak bola seperti Bung Hatta yang hari ini tepat 32 tahun meninggalkan kita, atau hanya tetap menjadi penyumbang duka sepak bola Indonesia….

“Jatuh bangunnya negara ini, sangat tergantung dari bangsa ini sendiri. Makin pudar persatuan dan kepedulian, Indonesia hanyalah sekadar nama dan gambar seuntaian pulau di peta….” – Mohammad Hatta

PLEIN van Rome, lapangan luas yang terletak di alun-alun Kota Padang, menjadi saksi bisu kecintaan Bung Hatta terhadap sepak bola. Semasa hidupnya, Wakil Presiden RI pertama itu merupakan salah satu tokoh nasional yang menggemari olahraga tersebut. Melalui kepengurusan sepak bola saat bersekolah di MULO jugalah Hatta pertama kali belajar untuk berorganisasi hingga sebutan “Bapak Koperasi” disematkan kepada dirinya.

Di masa remaja, Hatta sempat bergabung dalam klub sepak bola bernama Young Fellow. Meski berisi sejumlah anak Belanda, Hatta mampu tampil menonjol dan mampu memberikan prestasi. Juara Sumatera Selatan selama tiga tahun berturut-turut serta julukan “Onpas Seerbar” (Sukar Diterobos) dari orang Belanda adalah bukti kehebatan Hatta dalam sepak bola.

“Saya bermula bermain sepak bola di tanah lapang, dengan memakai bola biasa yang agak kecil ukurannya, bola kulit yang dipompa. Saban sore pukul 17.00, saya sudah di tanah lapang. Kalau tidak bermain sebelas lawan sebelas, kami berlatih menyepak bola dengan tepat ke dalam gawang dan belajar menembak ke gawang,” tulis Hatta dalam buku Untuk Negeriku: Sebuah Otobiografi.

Salah seorang teman Hatta, Marthias Doesky Pandoe, wartawan kelahiran Padang, dalam buku Hatta: Jejak yang Melampaui Zaman, disebut menyimpan banyak kenangan semasa Hatta masih remaja. Menurut Marthias, sejumlah teman Hatta yang pernah ditemuinya sering bercerita bahwa Sang Proklamator itu adalah gelandang tengah yang cukup tangguh.

Bahkan, kegemaran Hatta pada sepak bola berlanjut ketika dirinya menjadi salah satu tokoh politik penting dalam sejarah Indonesia. Dia tidak pernah absen menonton sejumlah pertandingan besar. Ketika diasingkan oleh kolonial Belanda ke Boven Digul pada 1935, ia bersama Sutan Sjahrir masih menyempatkan bermain sepak bola.

Hatta juga sempat membuat Bung Karno terpojok dan keteter saat beradu argumentasi mengenai kekalahan PSSI saat melawan kesebelasan Aryan Ghimkanna dari India di Stadion Ikada (sekarang Monas). Guntur Soekarno Putera yang ikut menonton pertandingan itu, dalam buku Pribadi Manusia Hatta, seri 10, lantas menyematkan judul “Nonton Bola, Apa Tafakur?” untuk menggambarkan keseriusan Hatta dalam urusan sepak bola.

Hingga hari tuanya, sepak bola pun masih menjadi bagian hidup Hatta. Pada awal 1970-an, saat Pandoe berkunjung ke rumah Hatta, tuan rumah berkata, “Di mana letak Plein van Rome sekarang?” Pandoe pun menjawab bahwa lapangan bola tersebut masih ada, tetapi kini telah menjadi alun-alun Kota Padang. Namanya sudah berganti menjadi Lapangan Imam Bonjol, yang berlokasi tepat di Kantor Balaikota Padang.

Semangat Nusantara

Dari sepenggal cerita tersebut, pasti timbul pertanyaan bagaimana jika Hatta melihat kondisi sepak bola nasional saat ini. Sebagai pencinta sepak bola sejati, Hatta pasti sedih dan mungkin saja menitikkan air matanya. Hal ini bukan tanpa alasan. Pasalnya, jika kita tarik ke belakang, sepak bola di masa Hatta, menjadi semangat tersendiri bagi anak bangsa. Kala itu, sepak bola bukan sebagai ajang pertarungan gengsi kepentingan pribadi seperti sekarang ini.

Pada masa penjajahan Belanda, pemuda Nusantara mengerti betul bahwa kehormatan sebagai bangsa bukan cuma urusan perang senjata, melainkan juga sepak bola. Atas semangat itulah, Persatuan Sepak Raga Seluruh Indonesia (sekarang PSSI) dibentuk pada 19 April 1930 sebagai wadah kesatuan untuk menegakkan martabat bangsa. Meski baru dibentuk, para pengurus di bawah kepemimpinan Ir Soeratin Sosrosoegondo itu telah memiliki konsep jelas bahwa sepak bola tidak hanya menjadi hobi, tetapi juga sebagai prestasi.

Koran Bintang Mataram edisi 22-44 April 1930, yang dikutip dari buku Kenang-kenangan 50 Tahun PSSI, melaporkan, salah satu misi berdirinya PSSI adalah sebagai jendela kebangsaan dan salah satu pintu gerbang menuju kemerdekaan. Dengan tujuan itu, jelas organisasi tersebut murni dibentuk dengan suatu kebanggaan akan semangat nasionalisme yang tinggi.

Alhasil, kompetisi pun dibuat bukan untuk kepentingan pribadi atau kelompok, melainkan demi harga diri. Berkat kompetisi itulah, Nusantara mampu berbicara kepada dunia. Dengan memakai bendera Dutch East Indies (Hindia Belanda), pemuda Nusantara menunjukkan bahwa Asia telah mengenal olahraga yang begitu digandrungi di Eropa melalui keikutsertaannya di Piala Dunia 1938. Nusantara kemudian menjadi pionir bagi Asia yang ingin unjuk gigi di hadapan penghuni bumi.

Pascakemerdekaan, Jepang dan Korea Selatan pernah merasakan dipermak 4-0 oleh pemuda Nusantara. Di Merdeka Games 1969, Taiwan pun harus bertekuk lutut kepada Soetjipto Soentoro dan kawan-kawan dengan skor 11-1. Medali emas SEA Games 1987 dan 1991 juga direbut Indonesia. Sejumlah prestasi itu, Nusantara jelas dapat membusungkan dada di antara negara Asia, seperti Thailand, Malaysia, dan Singapura, Jepang, hingga daratan Korea.

Bahkan, Jepang yang luluh lantah akibat Perang Dunia II tak malu untuk meniru Indonesia yang berstatus sebagai eks jajahannya. Mereka rela menyingkirkan gengsi sebagai penguasa Asia saat menjajah Nusantara selama 3,5 tahun lamanya. Dengan meniru sistem kompetisi Galatama pada akhir 1970-an hingga awal 1990-an, Negeri Sakura mampu meraih sukses melalui J-League miliknya dan dapat bertransformasi menjadi salah satu kekuatan Asia hingga kancah Piala Dunia.

Mimpi Indonesia

Lantas bagaimana dengan Indonesia saat ini? Hatta memang tidak sempat menyaksikan gemilangnya prestasi terakhir anak bangsa saat meraih medali emas SEA Games 1991 di Manila. Namun, Hatta mengerti bagaimana menjadi seseorang yang mencintai sepak bola yang memiliki kejujuran, kesederhanaan, serta tanggung jawab yang besar bagi negara. Hal inilah yang harusnya dijadikan suri teladan oleh sejumlah pengurus sepak bola di kompleks Senayan.

Semenjak SEA Games 1991, kondisi sepak bola nasional seperti tenggelam dalam sejarah kelam. Teranyar, lihat saja bagaimana bangsa ini diperbincangkan seluruh isi bumi saat menelan kekalahan 0-10 dari Bahrain di Pra-Piala Dunia yang menyakitkan hati. Belum lagi, istilah “spesialis final” mulai disematkan kepada Indonesia. Negeri ini kembali mengalami kegagalan di final turnamen Hassanal Bolkiah Trophy pekan lalu. Kini, satu per satu negara Asia sudah bisa menari karena prestasi, sementara kegemilangan Indonesia tinggal menjadi kenangan.

Lalu, kenapa di tengah majunya negara Asia justru Indonesia mengalami kemunduran prestasi luar biasa? Memang, banyak faktor mengenai anomali prestasi ini. Tetapi, rasanya tidak logis jika pemain dan pelatih yang disalahkan atas sejumlah kegagalan. Pengurus sepak bola yang berseterulah juga harus dituntut tanggung jawabnya, berkat ulahnya membuat dualisme kompetisi, pertarungan politik, dan konflik tiada henti.

Dengan adanya dualisme kompetisi, pilihan untuk mengisi pemain terbaik di timnas pasti akan menjadi masalah tersendiri. Sejumlah pengurus itu bahkan terkesan lebih mirip politisi dibanding pamong olahraga sejati.

Masa lalu sepak bola kita padahal memberi banyak teladan. Lihat saja di era 1960 hingga 1980-an, kelanjutan prestasi dari timnas yunior ke senior terlihat secara gamblang. Talenta muda Nusantara mampu meraih prestasi di kejuaraan Piala Asia Yunior (juara 1962, runner-up 1967, 1970), dan tiga kali berturut-turut meraih gelar Kejuaraan Pelajar Asia (1984, 1985, 1986). Prestasi itu bisa berlanjut ke timnas senior di era 1980 hingga 1990-an.

Tentunya, prestasi itu bisa berlanjut karena adanya kebesaran hati sejumlah pengurus PSSI yang mampu membangkitkan nasionalisme pemain yang juga membuat daya juang pemain meningkat. Pengurus rela hanya menerima honorarium selama pelatnas dan tidak menerima gaji tetap. Untuk soal dana, mereka hanya mengandalkan jualan karcis jika bertanding melawan tim-tim besar dan sedikit bantuan dari sejumlah penggila bola yang ingin menaikkan martabat bangsa di Asia.

Kebesaran hati dan keinginan untuk menaikkan martabat bangsa itulah yang hilang dewasa ini. Padahal, banyak sekali talenta muda yang tersebar di berbagai penjuru Indonesia. Lihatlah bagaimana timnas U-17 bisa meraih gelar juara di invitasi sepak bola Hongkong pada awal 2002, atau tim muda di sejumlah gelaran Piala Dunia Danone yang mampu mengalahkan sejumlah tim Eropa. Jika sudah begini, prestasi para talenta muda justru dijadikan komoditas politik untuk saling klaim dan pamer kesuksesan.

Perseteruan PSSI dan Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI) yang saling adu strategi dan kemampuan dalam berkonflik itu telah membuat Indonesia seperti kembali ke masa penjajahan Belanda dengan taktik devide et empera. Gigihnya pengurus dua organisasi itu dalam kisruh justru membelah persatuan anak bangsa. Terlalu banyak intrik demi mencari kekuasaan daripada meraih kesuksesan. Prestasi pun hanya menjadi mimpi di balik kotornya permainan politik demi kepentingan pribadi.

Contohlah Hatta

Harusnya setiap pengurus PSSI maupun KPSI dapat mencontoh Hatta yang mampu menyingkirkan emosi serta kepentingan pribadi demi kepentingan bangsa. Lihat saja bagaimana Hatta rela melakukan negosiasi dengan Belanda, yang telah menjajah ratusan tahun, dalam Konferensi Meja Bundar di Den Haag pada 1949. Kerelaan itu pun berbuah nyata, yaitu kemerdekaan Indonesia!

Belum lagi ketika Hatta dengan sikap kesatria mengundurkan diri dari posisi Wakil Presiden RI pada 1 Desember 1956 karena tidak sepaham dengan pandangan politik Bung Karno. Hatta sadar, bila bertahan dalam perbedaan dengan Bung Karno, justru bakal memperkeruh pemerintahan republik yang masih muda usia. Tujuannya pun jelas, yakni agar bangsa tidak terpecah belah.

Padahal, Hatta sebenarnya mempunyai sejumlah alasan kuat untuk menolak berunding dengan Belanda yang telah membuat rakyat Indonesia sengsara hampir 3,5 abad lamanya, ataupun menolak pandangan Bung Karno. Alasan itu pun jauh lebih kuat dibanding alasan statuta FIFA yang dipegang oleh PSSI dan KPSI.

Coba tanyakan ke masyarakat, apa yang diharapkan dari sepak bola Indonesia saat ini? Sebagian besar jawaban pastinya adalah mendapat prestasi, bukan mimpi, bukan pula konflik yang tiada henti. Masyarakat sejatinya saat ini tidak butuh sejumlah alasan dari pengurus sepak bola yang hanya sibuk dengan kepentingan pribadinya.

Sudah cukup bangsa ini menanggung malu, apalagi dengan hasil mengecewakan di Pra-Piala Dunia 2014 dan sejumlah final di kejuaran tingkat Asia itu. Harusnya kedua pengurus itu mengilhami ucapan Hatta bahwa jatuh bangunnya prestasi negara ini sangat tergantung dari bangsa ini sendiri.

Sekarang ratusan juta penduduk Indonesia menunggu apakah PSSI dan KPSI mau meniru kebesaran hati, kepedulian, dan jiwa kepahlawanan seorang pencinta sepak bola seperti Bung Hatta yang hari ini tepat 32 tahun meninggalkan kita, atau hanya tetap menjadi penyumbang duka sepak bola Indonesia….

“Jatuh bangunnya negara ini, sangat tergantung dari bangsa ini sendiri. Makin pudar persatuan dan kepedulian, Indonesia hanyalah sekadar nama dan gambar seuntaian pulau di peta….” – Mohammad Hatta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s